Sabtu, 23 Mei 2009

PROBLEMATIKA DUNIA KERJA


ARTIKEL: PROBLEMATIKA DUNIA KERJA
Dulu, waktu saya masih duduk di bangku sekolah, saya sangat ingin cepat-cepat bekerja. Dibenak saya, bila saya sudah kerja, saya tidak perlu belajar malam-malam untuk menghadapi ujian-ujian sekolah lagi. Saya akan mengenakan setelan baju kerja yang bagus dan menyandang tas kerja saya. Saya akan menempati meja dan kursi, tempat saya menyelesaikan tugas-tugas saya, dan memperoleh penghasilan yang besar tentunya. Kalau saya berjumpa dengan teman yang menanyakan kabar saya, saya dengan bangga akan menjawab “saya sudah bekerja di perusahaan x “. Dan bila jam pulang kantor tiba, saya akan kembali ke rumah. Wuihh…senang sekali rasanya.,tampaknya sangat mudah sekali. Itu adalah salah satu pandangan seseorang mengenai dunia kerja. Tetapi apakah hanya sebatas itu? Apakah sebenarnya arti dari “BEKERJA” itu?







Arti Bekerja
Ada yang mengatakan, bekerja adalah melakukan aktivitas/kegiatan tertentu untuk menghasilkan sesuatu, bisa material, spritual, kepuasan diri, dll. Bekerja juga merupakan suatu bentuk tanggung jawab kita kepada orang tua yang sudah menyekolahkan kita, setelah lulus kita harus bisa bekerja dan tidak tergantung lagi pada orang tua.
Semboyan berbahasa latin “Ora et Labora” sering diartikan : selain berdoa perlu bekerja, selain bekerja perlu berdoa. Tetapi ternyata artinya bukan hanya sebatas itu. Labora bukan hanya berarti bekerja, melainkan labora berarti bekerja keras. Dari situlah timbul kata bahasa Inggris “Laborius”, yang berarti “rajin atau menyediakan banyak waktu”.
Dalam Alkitab, bekerja keras diperlihatkan sebagai kebalikan dari kemalasan. Kemalasan bukan sekedar sifat jelek, melainkan dianggap sebagai kejahatan dan dosa yang daripadanya manusia harus bertobat. Jadi, Ora et Labora seharusnya tidak hanya merupakan semboyan saja, tetapi suatu mentalitas kerja keras yang harus kita miliki.

Untuk Apa Bekerja?
Setiap orang mempunyai alasan mengapa ia ingin bekerja. Umumnya, kita bekerja untuk:
1. mendapatkan penghasilan /mencari nafkah. Andaikan kita mewarisi kekayaan 1 juta US dollar, mungkin kegiatan dan tujuan bekerja kita berbeda dengan saat ini.
2. bisa mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang sudah kita pelajari (meskipun tidak selalu dunia kerja kita berhubungan dengan ilmu yang kita dapat di sekolah atau kuliah).
3. mendapat karier yang bagus, jabatan dan penghasilan plus fasilitas yang bagus sehingga status sosialpun meningkat.
4. mengembangkan potensi diri: menambah wawasan, pergaulan/relasi dan ilmu yang terus berkembang.

BEKERJA, selama ini dan seterusnya merupakan perhatian utama sebagian besar manusia. Kerja memenuhi setidaknya 2 kebutuhan utama ~ keamanan dalam hal keuangan dan kepuasan emosi.
Sebagian besar orang ingin mengerjakan tugas mereka dengan baik; dan menyadari bahwa orang dapat mempelajari ketrampilan kerja yang lebih efektif lagi.

Mengapa kita sebagai pekerja perlu belajar bagaimana meningkatkan ketrampilan kerja dasar kita? Pertama, karena dengan melakukan pekerjaan yang lebih baik cenderung membuat kita merasa lebih baik. Kedua, karena pasar kerja terus menjadi lebih kompetitif, kita lebih mungkin berhasil dalam pekerjaan kita bila kita bekerja dengan baik. Pekerja yang memperlihatkan keefektifan pribadi yang meningkat pada bidang kerja diharapkan akan memperoleh promosi dan kepuasan kerja yang lebih tinggi. Ketiga, pekerja tanpa bayaran seperti ibu rumah tangga dan pekerja sukarela akan mendapat keuntungan dengan mengetahui bahwa mereka memanfaatkan waktu mereka dan melatih ketrampilan mereka sampai batas optimum.

Problematika dunia kerja
Dalam dunia kerja, memang kita tidak menemukan ujian-ujian seperti pada masa sekolah, tetapi kita akan sering dihadapkan dengan berbagai problema yang ada di tempat kita bekerja, seperti sebagai berikut:
1. Tidak sesuainya ilmu yang dipelajari dengan pekerjaan. Karena sulitnya mendapat pekerjaan, kita sering bersedia mengambil pekerjaan yang ada dihadapan kita, meskipun berbeda dengan disiplin ilmu kita. Ini membuat kita lebih sulit melaksanakan apa yang menjadi tugas-tugas kita.
2. Persaingan dengan teman kerja. Beda banget antara dunia sekolah dan dunia kerja, dimana ada persaingan untuk suatu posisi tertentu. Sering menghalalkan segala cara, dari memuji-muji atasan sampai menjelek-jelekkan teman demi mendapat simpati atasan.
3. Masalah dengan atasan. Ada 2 aspek yang sering menjadi masalah antara pekerja dan atasannya yaitu kepercayaan dan respek. Kepercayaan, yang berarti bahwa kita bisa dipercaya untuk menjalankan tugas kita secara efektif dan tepat pada waktunya. Respek, atasan akan memberikan respek kepada kita untuk pekerjaan yang kita lakukan dengan baik. Mungkin sekali atasan memang tidak menyukai kita, tetapi tetap memberi respek kepada kita dan pekerjaan kita.
4. Tidak bisa berekspresi/mengembangkan potensi diri karena di perusahaan sudah ada rule/aturan tertentu dan ada orang-orang yang mengatur.
5. Kejenuhan, masalah yang kerap muncul. Sebagian besar pekerjaan memiliki aspek pengulangan dan kebosanan yang benar-benar harus dikerjakan. Terlebih bila kita sudah bekerja dalam waktu yang cukup lama dalam satu perusahaan dengan pekerjaan yang bersifat rutinitas.
6. Interaksi sosial yang kompleks dengan individu lain yang memiliki pola pikir/karakter yang berbeda-beda dan memiliki kepentingan atau tujuan yang berbeda pula. Hal ini sering menyebabkan adanya kesalahpahaman dan menjadi hambatan yang cukup berarti.
7. Beban tugas yang terlalu berat, sehingga dapat mempengaruhi kondisi otak, hati maupun jiwa menjadi tidak seimbang, yang mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit akibat bekerja (fisik maupun non fisik), terlebih lagi apabila kita terlalu larut dalam ruwetnya masalah pekerjaan.
8. Ketidakhadiran pekerja. Bila kita mengambil waktu kerja karena sakit atau karena merasa sedikit tidak enak badan, bertanyalah pada diri sendiri apa yang salah dalam situasi kerja kita. Apa yang mendorong kita tidak hadir sewaktu kita sebenarnya fit untuk bekerja? Kita semua bisa saja mengalami hari-hari yang suram hingga menyedihkan. Namun, bila hari-hari ini terjadi setiap minggu pasti ada yang tidak beres.
9. Kelesuan kerja adalah kondisi yang sangat riil yang bisa menurunkan produktivitas kerja kita. Orang menjadi lesu bila mereka tidak lagi mengalami tantangan ataupun tidak lagi memperoleh kepuasan dari kerja mereka, misalnya karena kurangnya penghargaan terhadap hasil kerja mereka.

Apa yang bisa kita upayakan untuk semua problema tersebut?
1. Bila pekerjaan yang saat ini Tuhan berikan kepada kita tidak sesuai dengan disiplin ilmu kita, yang pasti kita harus mau terus belajar dan tidak perlu malu bertanya/belajar dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya dari kita.
2. Suasana persaingan dengan menjatuhkan teman sangat tidak menyenangkan. Janganlah kita berpikir untuk berbuat demikian juga, tetaplah bekerja dengan sebaik-baiknya dan bersikap professional, menghormati setiap orang yang kita jumpai di lingkungan kantor.
3. Atasan dan teman kerja kita akan menaruh respek pada kemampuan kita bila kita menunjukkan kualitas kita: bersikaplah antusias terhadap pekerjaan; kerjakan yang terbaik yang bisa dilakukan setiap hari; Bekerjalah sungguh-sungguh, bersikaplah bisa diandalkan, selesaikan pekerjaan pada waktunya; bersikaplah inovatif, carilah cara-cara yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan diri dan pekerjaan kita; bersedialah untuk menerima tanggung jawab tambahan. Atasan mungkin ingin mendelegasikan tugas baru untuk mendorong pertumbuhan dalam pekerjaan kita; Sadarilah keterbatasan kita, bila kita ragu mengenai kemampuan kita untuk melaksanakan suatu tugas yang sudah ditetapkan, mintalah bantuan yang semestinya; Bersikaplah luwes dan bisa menyesuaikan diri. Bila suatu masalah kerja yang mendesak muncul atau bila waktu lembur diperlukan, bersikaplah kooperatif. Bila tujuan ini tampaknya tidak mungkin kita capai, amatilah teman sekerja yang mendapat respek dari atasan kita. Apakah yang dilakukan rekan kita ini untuk mendapatkan respek tersebut? Kita hidup dalam laboratorium manusia dan pelajaran berharga bisa dipelajari setiap hari dari orang-orang disekitar kita. Pengamatan yang cermat bisa membuat setiap hari sebagai suatu langkah maju dalam mengelola atasan kita secara lebih konstruktif.
4. Setiap kita mempunyai pemikiran-pemikiran idealis yang ingin diterapkan dalam pekerjaaj kita. Namun, kita juga harus patuh pada aturan main dan budaya kerja yang berlaku dimana tempat kita bekerja meskipun bertentangan dengan pikiran idealistis kita sebagai individu. Kita harus belajar untuk menjadi cukup fleksibel dan bekerja sebaik-baiknya.
5. Untuk mengatasi kejenuhan cobalah lakukan sejumlah variasi dari pekerjaan kita. Ambillah peranan aktif dalam pengambilan keputusan bila mungkin; mintalah tanggung jawab yang lebih besar dalam pekerjaan kita; carilah tantangan baru, buatlah variasi dalam melakukan tugas/pekerjaan, misalnya biasanya membuat tabel horizontal, ganti dengan tabel vertical; ikuti kursus pendidikan yang berhubungan dengan pekerjaan untuk memperbaharui ketrampilan kita; rencanakan ganjaran untuk pencapaian target kerja yang spesifik. Berfokuslah pada ganjaran ini sebagai perangsang untuk menyelesaikan tugas-tugas yang membosankan; Siapkan surat pernyataan resmi yang bisa kita berikan kepada diri sendiri untuk ketekunan dan kegigihan dalam menghadapi kebosanan absolut. Humor membuat kebosanan bisa lebih ditoleransi dan cepat berlalu; atau ambillah cuti panjang, biasanya cuti 4 hari cukup membuat kita kembali merindukan pekerjaan-pekerjaan kita.
6. Dalam memupuk interaksi dengan orang lain, ada beberapa hal yang bisa kita upayakan: a. berikanlah apa yang patut kita berikan pada atasan dan bawahan (vertical) dan berikanlah apa yang patut kita berikan pada rekan sekerja (horizontal); b. binalah hubungan baik dengan siapa saja, intinya, pintar-pintarlah membawa diri; c. layanilah sebaik mungkin semua permintaan dari siapa saja (vertical dan horizontal), sepanjang permintaan tersebut sesuai dengan kapasitas kita; d. mengalahlah pada perbedaan-perbedaan yang tidak prinsipil; e. bersikap baik dalam berbicara dan menulis (termasuk email) akan membuat orang lain nyaman dan tidak merasa terancam. Biasanya orang lain bersikap negatif (tidak kooperatif, tersinggung, mengkritik, marah, menyerang dan bahkan berusaha menjatuhkan kita) dikarenakan merasa dirinya terancam. Ini adalah naluriah semua mahluk hidup, termasuk kita manusia.
7. Bila beban pekerjaan sudah terasa terlalu berat, kita harus kembali menyadari bahwasanya masalah selalu ada dalam pekerjaan, yang penting bagaimana kita menghadapinya dengan tidak sembarangan, tetapi dengan hati yang tenang. Ingatlah, masalah selalu ada didalam pekerjaan, tetapi kita harus menganggap masalah itu bukan sebagai beban, melainkan adalah sesuatu yang wajar terjadi dalam hidup.
8. Mungkin sulit untuk menemukan penyebab masalah ketidakhadiran. Kadang kita memendam masalah dalam-dalam karena masalah tersebut menimbulkan ancaman yang kuat dan serius terhadap kepercayaan diri atau harga diri kita. Bila kita merasa ada masalah dan tidak dapat mengidentifikasikannya, bicaralah dengan seorang teman dekat yang mengenal kita dengan baik. Bicarakan rencana yang akan mendorong kehadiran kerja yang bisa diandalkan.
9. Untuk menghadapi kelesuan kerja luangkanlah sedikit waktu untuk beristirahat sepanjang hari, berlatihlah untuk rileks secara fisik, mental dan emosional; ambillah liburan berkala; pertahankan hubungan erat dengan pekerja lain untuk membicarakan masalah kerja yang lazim dan memperoleh dukungan teman sekerja; buatlah pekerjaan kita bervariasi sebanyak mungkin. Hindari rutinitas kerja dimana setiap jam dari hari kita menjadi bisa diramalkan seluruhnya; pertahankan keterlibatan aktif terhadap minat luar dan hobi untuk memberi sejumlah keragaman dan kegairahan pada kehidupan kita; bicarakanlah mengenai perasaan kita, yang baik maupun yang buruk, dengan teman dekat di tempat kerja dan keluarga. Jangan menyimpan emosi yang kuat; Bila mulai menderita penyakit yang tidak jelas, kesulitan tidur dan hubungan yang terganggu dengan rekan kerja, bicaralah dengan psikolog mengenai pengalaman di tempat kerja. Pastikan untuk menyebutkan setiap ketidakpuasan yang dirasakan sekarang.

Jadi, Bagaimana cara kita meningkatkan produktivitas?
Kita sungguh perlu meningkatkan produktivitas kita dengan cara: bekerjalah menurut rencana harian; carilah apa yang memungkinkan kita bisa gunakan secara produktif waktu yang semula tidak terpakai; mulailah suatu arsip pelaksanaan untuk menghubungi secara berkala orang-orang yang penting bagi kerja kita. Usahakan mencatat informasi latar belakang, kejadian istimewa dan barangkali bahkan ulang tahun penting pada kartu arsip kita; latihlah menempatkan diri kita pada posisi orang yang kita hadapi dan lihatlah diri kita dari perspektif mereka, Dapatkah kita mengarahkan mereka secara lebih positif? Dapatkah kita membuat mereka merasa lebih positif dalam hubungan mereka dengan kita?; berbicaralah dengan orang yang berpengalaman dalam bidang kerja kita dan cobalah strategi yang mereka gunakan untuk meningkatkan produktivitas mereka; dan perbaharuilah ketrampilan kerja kita!

Sulitkah?
Ya, kita tahu semua itu tidaklah sedemikian mudahnya diterapkan, tetapi kita bisa menghadapi tantangan itu. Itulah sikap yang benar: menghadapi tantangannya dan mengantisipasikan bukan saja kerja keras, melainkan juga sukses.
“ Saya bisa menerima kegagalan. Semua orang bisa gagal, tetapi saya tidak bisa menerima dengan tidak mencoba”(Michael Jordan). Kata kunci dalam kutipan Jordan di atas adalah menerima. Seandainyapun kita gagal dalam suatu tugas, kalau kita telah mengupayakannya dengan sebaik-baiknya, karakter kita menjadi lebih kuat. Itu juga memberikan teladan kepada orang lain. Ujung-ujungnya, kegagalan kita yang sementara itu akan berkontribusi bagi sukses kita maupun sukses mereka-mereka yang setelah kita. Akhirnya, Semoga Berhasil dalam Pekerjaan Anda dan Beranikanlah Diri untuk Meraih Sukses!
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7)

(Penulis adalah Monalita Hutabarat, tulisan ini dimuat dalam Buletin Narhasem Edisi Mei 2007